Puncak Omicron Diprediksi Februari, Banten Waspada
Sumber Gambar :Prediksi
pemerintah dan epidemiolog potensi puncak kasus varian Omicron terjadi pada
Februari 2022 menjadi peringatan semua kalangan.
Prediksi
ini tentu didasarkan pada tren peningkatan kasus dan sejumlah faktor lainnya.
Pada pekan keempat Januari ini, Sabtu 22 Januari 2022, kita mendengar kabar
duka karena Kementerian Kesehatan
(Kemenkes) melaporkan dua pasien COVID-19 terkonfirmasi Omicron telah meninggal
dunia.
Ini
merupakan laporan fatalitas pertama di Indonesia akibat varian yang memiliki
daya tular tinggi tersebut. Bahkan salah satu korbannya merupakan pasien di
Kota Tangerang Banten.
Menurut
Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi dalam keterangan Kemenkes Dua pasien
Omicron yang meninggal, satu kasus merupakan transmisi lokal, meninggal di RS
Sari Asih Ciputat dan satu lagi merupakan Pelaku Perjalanan Luar Negeri,
meninggal di RSPI Sulianti Saroso.
Diketahui,
pada Sabtu 22 Januari 2022, Kemenkes mencatat Indonesia memiliki 3.205 kasus
baru Covid-19, yang disertai 627 pasien sembuh dan lima orang meninggal akibat
terpapar Covid-19.
Kenaikan
kasus baru itu merupakan implikasi dari peningkatan kasus konfirmasi Omicron di
Indonesia. Sejak 15 Desember 2021 hingga saat ini secara kumulatif tercatat
1.161 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Tanah Air.
Kasus
Omicron di Banten terbanyak di Kota Tangerang. Sebanyak lima orang warga Kota Tangerang terkonfirmasi
positif Covid 19 varian Omicron. Jumlah ini bertambah satu setelah sebelumnya,
ada 4 warga Kota Tangerang dinyatakan positif varian virus dari Afrika Selatan
itu.
Wali
Kota Tangerang, Arief Wismansyah mengatakan tambahan jumlah itu berasal dari
salah satu keluarga yang tertular dari pasien Covid 19 varian Omicron.
Arief
Wismansyah membeberkan, dua orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 terpapar
virus itu di luar negeri. Sedangkan tiga orang lainya karena transmisi lokal.
Lantas
bagaimana pemerintah daerah (Pemda) di Banten menyikapinya? Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan. Pertama, ini pencegahan utama, yakni pemda di Banten
perlu memperkuat lagi upaya pencegahan penyebaran Omicron, salah satunya dengan
memperketat penerapan protokol kesehatan.
Salah
satu penerapan protokol kesehatan yakni pemakaian masker, mencuci tangan dengan
hands sanitizer, menjaga jarak dan menghidari kerumunan. Selain itu, tak kalah
penting, pemerintah daerah juga perlu memperkuat kapasitas 3T yakni testing
atau pemeriksaan, pelacakan dan penanganan.
Dalam
hal pencegahan penularan varian Omicron, pemerintah daerah juga perlu
meningkatkan lagi upaya untuk mempercepat program vaksinasi termasuk juga
program vaksinasi penguat atau dosis ketiga atau Booster.
Tenga
kesehatan juga diingatkan akan pentingnya pemeriksaan whole genome sequencing
(WGS) guna mendeteksi dini potensi varian baru Covid-19. Nah untuk antisipasi
melonjakanya pasien Covid-19 akibat varian Omicron pemerintah daerah perlu
memastikan kesiapan fasilitas layanan kesehatan guna mengantisipasi kemungkinan
terjadinya peningkatan kasus Covid-19 akibat penyebaran varian Omicron.
Dalam
hal penanganan pasien Covid-19, Kemenkes juga telah mengeluarkan aturan baru
untuk penanganan konfirmasi Omicron di Indonesia, tertuang dalam Surat Edaran
Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.01/MENKES/18/2022 tentang Pencegahan dan
Pengendalian Kasus Covid-19 Varian Omicron yang ditetapkan pada 17 Januari
2022.
Surat
edaran tersebut mengatur untuk
penanganan pasien konfirmasi Omicron sesuai dengan penanganan Covid-19, di mana
untuk kasus sedang sampai berat dilakukan perawatan di rumah sakit. Sementara
tanpa gejala hingga ringan, difokuskan untuk isolasi mandiri dan isolasi
terpusat.
Dalam
kesiapan RS dalam mengantisipasi melonjaknya pasien Covid-19 maka rumah sakit
di Provinsi Banten harus lebih siap menghadapi lonjakan pasien Covid-19,
sebagaimana prediksi puncak Omicron pada Februari 2022.
Kesiapan
rumah sakit di Banten meliputi kamar ICU, obat-obatan, ambulans, oksigen,
hingga pemulasaraan jenazah.
Oleh
karena diharapkan rumah sakit di Banten yang merupakan RS rujukan untuk pasien
Covid-19 harus mempersiapkan secara dini. Meskipun berharap prediksi lonjakan
pasien Covid-19 tak terjadi, namun jika sudah siap maka akan siap dalam
penanganannya.
Puncak
gelombang II pada Juli 2021 menjadi pengalaman dan pelajaran untuk tidak
terulang jika pada akhirnya terjadi lagi puncak gelombang III Covid-19. Dengan
kesiapan yang bagus maka diharapkan RS tidak akan lagi kerepotan apalagi sampai
collaps.*** (Maksuni, Praktisi Pers)