• Thursday, 20 June 2019
  • Menata Banten Lama Menuju Wisata Kelas Dunia


    Salah satu perhatian besar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dibawah kepemimpinan Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy yakni dalam penataan atau revitalsasi kawasan Banten Lama.

    Pemprov Banten mengalokasikan sekitar Rp 220 miliar untuk penataan Banten Lama yang dikucurkan secara bertahap selama tiga tahun. Penataan kawasan Banten Lama sudah dimulai sejak 2018.

    Komitmen Pemprov Banten dalam revitalisasi Banten Lama ini pada 2019 sudah kelihatan hasilnya. Cap kumuh, semrawut  yang melekat pada kawasan  Banten perlahan mulai hilang. Beberapa sisi yang menunjukkan perubahan yaitu zona inti di kawasan ini sudah terpasang marmer dan payung bergaya di Masjid Nabawi Madinah. Kanal sudah dihiasi dengan taman. Di sekitar Keraton Surowosan juga dipasang lampu hias, pagar dan tulisan raksasa “Keraton Surosowan” yang dihiasi lampu sehingga cahanya indah dilihat saat malam hari.

    Kemudian, di Keraton Kaibon terdapat taman kecil yang dinamai Taman Keraton Kaibon. Jembatan didekatnya dicat warna-warni untuk menghilangkan kesan kekumuhan. Kemduian disekililing dibangun taman dan kursi-kursi indah sehingga pengunjung bisa santai menikmati kawasan Banten Lama yang penuh sejarah.

    Perubahan fisik pada Banten Lama membuat warga yang berkunjung merasa terkagum-kagum dan metasa bangga. Banten kini memiliki objek wisata yang membanggakan masyarakatnya. Bahkan, revitalisasi Banten ini terus berlanjut dengan rencana pembangunan Baitul Qur’an.

    Pada Focus Group Discussion (FGD) 5 Maret 2019 lalu, Prof Dr Dodi Nandika  mengatakan keberadaan Baitul Quran sedikitnya memiliki tiga peran penting. Pertama, meningkatkan kualitas umat Islam dalam membaca dan menghafal Alquran. Kedua, menjadi tempat bagi umat Islam untuk memahami Alquran dengan baik dan benar. Ketiga, keberadaan Baitul Quran harus menjadikan umat Islam yang berkunjung menjadi lebih baik.

    Selain pembangunan Baitul Quran, pemprov juga merencanakan membangun homestay (tempat menginap) bagi masyarakat yang berkunjung ke Banten Lama. Berbagai penataan yang dilakukan Pemprov Banten ini, dalam rangka mewujudkan konsep Banten Lama sebagai ikon wisata kelas dunia.

    Rencana besar ini tentu hal yang sangat membanggakan. Mengingat, kejayaan Banten Lama sangat hebat, namun cukup peninggalan cagar budaya, belum mendapatkan perhatian serius. Berbagai permasalahan yang muncul tak bisa diatasi sehingga setiap kali rencana revitalisasi selalu dipandang pesimistis. Banten Lama pun, selolah tak bisa lepas dari cap kumuh dan tak teratur.

    Komitmen kuat Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy yang didukung oleh DPRD Banten dan semua pemangku kepentingan memunculkan optimistis sehingga revitalisasi sudah kelihatan hasilnya. Cara Gubernur Banten yang sering menggelar rapat di pelataran Masjid Banten Lama, melantik Wali Kota Serang Safrduin dan Wakil Wali Kota Serang Subadri di Banten Lama bagian dari membangun optimism bahwa jika ada kemauam kuat maka mimpi besar tersebut akan terwujud.

    Menata Banten Lama selaras dengan sejarah Banten Lama memiliki catatan hebat. Kesultanan yang didirikan oleh Sunan Gunung Djati ini, memiliki dua fase sejarah besar, yaitu fase kerajaan dan fase kesultanan. Fase kerajaan berlangsung selama 70 tahun, dari 1526 sampai 1596 Masehi. Pemimpinnya diberi gelar maulana, antara lain Maulana Hasanudin, Maulana Yusuf dan Maulana Muhammad.

    Sedangkan fase kesultanan berlangsung 213 tahun, dari 1596 sampai 1809 Masehi. Pemimpinnya diberi gelar sultan, yang kala itu diawali oleh Sultan Abdul Mafakhir, putra Maulana Muhammad. Kesultanan Banten pernah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fath Abdul Fatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu, Pelabuhan Banten di Karangantu menjadi pelabuhan internasional, sehingga perekonomian kesultanan maju pesat.

    Masa kejayaan berangsur menurun dan mulai memasuki masa keruntuhan pada 1813 Masehi. Masa ini beriringan dengan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda Herman Wiliam Daendels berkuasa. Kesultanan Banten pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Rafiuddin.

    Kemudian, Belanda dengan kekuatannya membombardir Keraton Kesulatan Banten hingga hancur. Penampilannya menjadi tidak jauh seperti yang tampak sekarang hanya berupa reruntuhan sisa bangunan dan beberapa yang masih berbentuk seperti aslinya.

    Fakta-fakta sejarah ini sudah terang benderang menggambarkan Banten Lama memiliki sejarah hebat. Modal sejarah ini dan semangat para Sultan Banten zaman dulu menjadi energi besar bagi masyarakat Banten menjadikan Banten Lama sebagai destinasi wisata kelas dunia layaknya masa kesultanan dahulu.***

    Oleh Maksuni

    Penulis, jurnalis Kabar Banten


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan