• Monday, 22 July 2019
  • Mengenal Sosok Brigjen KH Syam’un Pahlawan Nasional Asal Banten


    Tokoh pejuang asal Banten yang mendapat gelar pahlawan nasional bertambah. Hal itu setelah Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Brigjen KH. Syam’un (alm), pendiri Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon, pada 8 Novmber 2018 lalu. Sebelumnya pejuang asal Banten yang telah mendapat gelar pahlawan nasional yakni Mr Sjafruddin Prawiranegara pada 2011 dan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1970.

    Sebagai masyarakat Banten, tentu pemberian gelar pahlawan bagi tokoh pejuang asal tanah kesultanan ini patut disyukuri. Kiprah dan perjuangan tokoh-tokoh asal Banten makin diakui negara. Namun yang lebih penting dari sekadar gelar pahlawan nasional, yakni bagaimana masyarakat Banten bisa meneladani semangat tokoh pejuang  saat masa perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

    Brigjen TNI (Anumerta) KH. Syam’un lahir di Beji, Bojonegara, Serang, Banten, 5 April 1894. Tokoh pejuang kemerdekaan menentang Pemerintahan Hindia Belanda di Banten itu, meninggal di Kamasan, Cinangka, Serang, Banten, 28 Februari 1949 pada umur 54 tahun.

    KH. Syam’un merupakan keturunan KH. Wasid yang pernah bergerilya menentang penjajah Belanda pada tahun 1800-an. Sebagai keluarga seorang patriot, Syam’un mewarisi mandat sebagai sosok yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara.

    Bagi masyarakat Banten, nama Sya’mun harum sebagai Bupati Serang pasca-kemerdekaan Indonesia. Ia bertugas sebagai abdi negara di kabupaten itu pada 1945-1949. Ia meninggal pada 1949 karena sakit, setelah memimpin pertempuran di Serang.

    Machdum Bachtiar dalam buku “Brigjen KH Syam’un: Tokoh Tiga Dimensi” (Pustaka Kabar Banten, 2019), melihat tiga sosok keteladanan yang dalam diri KH Syamu’un, yakni sosok tokoh agama/kiai kurun 1916-1924, tokoh pendidikan (1925-1943) dan tokoh militer (1943-1949). Sebagai tokoh agama, KH Syamun merupakan perintis pesantren salafi di Citangkil Kota Cilegon, yang kemudian menjadi cikal bakal perjuangannya mendirikan perguruan Islam Al-Khairiyah. Sebagai tokoh agama, KH Syam’un, bukan menjadikan pesantren sebagai basis pengajaran agama, tetapi juga ilmu-ilmu yang lain, nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan dan menempa santri sebagai kader untuk pengembangan ajaran Islam.

    Sedangkan sebagai tokoh pendidikan,  KH Syam’un merintis sistem pendidikan madrasah sebagai pengembangan pesantren salafi. Madrasah yang dinamai Al-Khairiyah Citangkil itu kemudian menjadi inspirasi dalam pembentukan organisasi Perguruan Islam Al-Khairiyah yang masih eksis hingga sekarang.

    Sebagai sosok militer, KH Syam’un merupakan tokoh pejuang yang gigih yang memiliki jiwa patriotis dan nasionalis. Ia pernah bergabung dengan kelompok Pembela Tanah Air (Peta) bersama Kasman Singodimedjo. Selanjutnya, Syam’un bergerilya bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

    Sosok tiga dimenasi KH Syam’un itu paling tidak harus diteladai oleh generasi sekarang. Masa KH Syam’un dengan sekarang jelas berbeda. Namun nilai-nilai kejuangan dalam bidang agama, pendidikan dan kemiliteran relevan hingga sekarang.

    Salah satu upaya untuk menanamkan nilai-nilai kejuangan KH Syam’un yakni dengan menjadikan buku-buku sejarahnya sebagai salah satu bahan ajar untuk anak-anak sekolah, khususnya di Banten.

    Penulis menyambut baik kebijakan Pemkab Serang yang mnejadikan buku-buku terbiatan “Selayang Pandang Jejak Perjuangan Brigjen KH Syam’un Pahlawan Nasional dari Banten” karya Mufti Ali dan Rahayu Permana akan dijadikan buku bacaan wajib siswa-siswi SD-SMP di Kabupaten Serang. Tentu, bukan hanya satu buku, tetapi juga buku-buku yang mengungkap sejarah KH Syam’un bisa menjadi rujukan, mulai tingkat SD, SLTP, SLTA hingga perguruan tinggi.

    Semoga saja, kepala daerah di Banten memiliki komitmen dalam menjadikan sejarah pahlawan nasional asal Banten, Sultan Agen Tirtayasa, Mr Sjafrudin Prawirangera dan Brigjen KH Syam’un sebagai buku pelajaran  di sekolah maupun perguruan tinggi. Tujuannya, agar anak-anak sekolah baik pelajar dan mahasiswa mengetahui dan mengenal pahlawan nasional asal Banten dan meneladani nilai-nilai kejuangannya untuk diterapkan pada masa kini.***

     

    Oleh Maksuni

    Penulis, jurnalis Kabar Banten


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan