• Monday, 24 September 2018
  • Program Go ASEAN, FKIP Untirta Utus 10 Mahasiswa ke Thailand


    Dekan FKIP Untirta Aceng Hasani, Wakil Rektor Bidang Akademik Fatah Sulaeman, dan Rektor Untirta Sholeh Hidayat bersama perwakilan mahasiswa yang PPLK di Thailand.

    SERANG – Universitas Sultan Ageng Tritayasa (Untirta) mengutus sepuluh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ke Thailand untuk menjalani program pengenalan lapangan kependidikan (PPLK) sekaligus melakukan penelitian untuk skripsi.

    Sepuluh mahasiswa yaitu Rima Putri Sirait, Dinda Ayu Suhartinah, Dzikri Arie Ramadhan, Monica Hayati, Ghea Hafiizha Nazmi, Siti Anisah Aprianingsih, Yuliyanti Maulida, Desy Aulia Mariska, Bella Arista, dan Fujy Damayanti. Di Negara Gajah Putih itu, mahasiswa berkesempatan mengajar sejak 7 November 2017 lalu hingga 15 Maret 2018.

    Mereka ditempatkan di tujuh sekolah berbeda, dengan jenjang pendidikan yang berbeda pula, di Provinsi Krabi dan Provinsi Nakhon Si Tammant. Ketujuh sekolah tersebut yaitu Santitham Mulniti Foundation School, Annuban Muslim Krabi School, Sabtivittaya School, Eakkapapsasanawich Islamic School, Anuban Jitjongrak School, Panteeptham Mulniti School Krabi, dan Lanta Ratprachautit 125 School.

    Dekan FKIP Untirta Aceng Hasani menjelaskan, program PPLK di luar negeri merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara Untirta dengan Association of Private Islamic School, sebuah lembaga sekolah muslim swasta di Thailand.

    Menurut Aceng, selain untuk meningkatkan kualitas dan wawasan mahasiswa, program tersebut merupakan upaya Untirta untuk Go ASEAN. “Ini menuju Akreditasi ASEAN. Setelah akreditasi secara nasional sudah tertinggi, yaitu A, kita berkeinginan untuk Akreditasi ASEAN. Syukur-syukur bisa sampai internasional,” papar Aceng kepada awak media di kampus Untirta, Pakupatan, Kota Serang, setelah mendampingi Rektor Untirta Sholeh Hidayat menyerahkan penghargaan kepada 10 mahasiswa tersebut, Senin (19/3).

    Menurut Aceng, sebagai fakultas yang melahirkan tenaga kependidikan, FKIP Untirta terus berupaya melakukan inovasi agar bisa lahir tenaga kependidikan yang  profesional dan berkualitas.

    Di Thailand, mahasiswa mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga yang bisa menjadi bekal bagi mereka untuk sepenuhnya terjun di dunia pendidikan.

    “Mereka mengetahui bagaimana perbandingan pendidikan antara di negara kita dan di sana (Thailand). Ternyata, pendidikan kita di mata orang Thailand sangat bagus, metode yang menurut kita biasa, di sana beeh (angkat dua jempol tangan),” ujar Aceng.

    Sepuluh mahasiswa tersebut, lanjut Aceng, merupakan rombongan pertama yang dikirim ke luar negeri untuk menjalankan program PPLK sekaligus penelitian. Selain Thailand, negara ASEAN lain yang menjadi tujuan lokasi PPLK dan penelitian seperti Singapore dan Malaysia.

    “Di Thailand pun nanti tidak hanya di dua provinsi itu saja, tapi kita lihat dulu kondisi daerahnya, aman atau tidak,” paparnya.

    Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Dodi Firmansyah menambahkan, tindak lanjut dari program itu, tahun ini akan ada sejumlah warga negara Thailand yang akan mendapatkan beasiswa kuliah di Untirta.

    “Ini juga menjadi bagian dari syarat Akreditasi ASEAN. Harus ada mahasiswa dari negara ASEAN yang kuliah di Untirta,” tuturnya.

    Target Akreditasi ASEAN sendiri, dijelaskan Dodi, tidak dalam waktu dekat karena perlu persiapan panjang untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

    Salah satu mahasiswa yang berkesempatan ke Thailand, Rima Putri Sirait, menuturkan, banyak pengalaman berharga yang didapatkan bersama teman lainnya selama empat bulan di sana.

    “Kami dipisah, ada yang sendiri ada yang berdua, ada yang ngajar TK, SD, SMP, ada juga SMA,” tuturnya.

    Selama di Thailand, Rima mengaku banyak belajar soal metode mengajar. Diakui mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tersebut, bahasa menjadi kendala utama dirinya menjalani program PPLK.

    “Memang ada pelajaran bahasa Melayu di sana, tapi karena sejak kecil menggunakan bahasa Thailand, jadi mereka tidak bisa Melayu,” katanya.

    Kondisi itu diperparah dengan kemampuan bahasa Inggris di lokasi PPLK yang belum baik sehingga para mahasiswa yang PPLK harus menggunakan bahasa tubuh.

    “Selama dua bulan kita gunakan bahasa Inggris yang biasa saja, ditambah dengan bahasa tubuh. Kita pun terus belajar bahasa Thailand menggunakan aplikasi smartphone yang ada,” katanya.

    Saat ini, dirinya bersama kesembilan temannya sudah mampu berbahasa Thailand. Bahkan bersama tiga temannya, Rima mengaku mendapatkan tawaran mengajar di sana.

    Terkait dua provinsi yang menjadi lokasi PPLK merupakan dua daerah yang banyak ditinggali muslim. Namun tetap ada sejumlah siswa yang bersekolah dari kalangan non-muslim.

    Sumber : https://www.radarbanten.co.id/program-go-asean-fkip-untirta-utus-10-mahasiswa-ke-thailand/


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan