• Wednesday, 13 December 2017
  • Menelusuri Eksotisme Gunung Pinang


    BICARA soal destinasi wisata di Banten seolah tak akan pernah ada habisnya. Keindahan dan kekayaan alam di negeri jawara ini begitu melimpah ruah di setiap daerahnya. Wisata baru pun kian bermunculan seiring dengan pengembangan pariwisata di Banten, salah satunya Gunung Pinang. Gunung Pinang sejatinya bukan destinasi wisata baru di Banten, tepatnya di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Soalnya, sejak dulu kawasan Gunung Pinang sering dikunjungi banyak orang untuk sekadar berolah raga dan menikmati pemandangan alam dari puncaknya.

    Belakangan, Gunung Pinang menjadi buah bibir bagi para traveler. Para traveler dibuat takjub dengan eksotisme pemandangan alam yang bisa dilihat dari atas puncak bukit. Gunung Pinang merupakan kawasan Perhutani yang kemudian dijadikan daerah wisata milik KPH Banten yang letaknya tepat di jalur utama lalu lintas Serang-Cilegon. Gunung Pinang sebenarnya adalah sebuah bukit yang tingginya hanya 300 mdpl dengan luas 222 hektare.

    Pemandangan di dalam kawasan Gunung Pinang merupakan hutan dengan jenis tanaman campuran seperti jati dan mahoni. Sementara dari atas puncaknya kita bisa menikmati panorama pemandangan lepas kota Merak, Pulau Burung, dan kawasan situs sejarah Banten Lama.

    Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eneng Nurcahyati mengatakan, Gunung Pinang merupakan destinasi yang tumbuh dari penataan destinasi wisata barudengan menciptakan hal-hal baru yang dapat disukai oleh pengunjung. “Menciptakan atraksi tentu sangat dianjurkan sebagai ikon di tempat wisata asalkan dengan tidak mengganggu ekosistem alam sekitar. Utamanya kebersihan yang perlu diperhatikan di kawasan wisata agar pengunjung bisa nyaman,” ujarnya, saat menghadiri acara Santunan Anak Yatim di Wisata Alam Gunung Pinang, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, seperti dikutip dari laman dispar.bantenprov.go.id, Jumat (1/9/2017).

    Ia menuturkan, atraksi yang dihadirkan di Kawasan Gunung Pinang tentunya harus disertai dengan kesadaran masyarakat dalam menciptakan wisata yang bersih. “Wahana wisata ini juga bisa dijadikan sebagai edukasi pada usia dini yang harus cinta terhadap lingkungan. Ditambah dengan penataan destinasi yang akan memberikan dampak positif bagi perkembangan wisata sekaligus dukungan dari pemkab/kota untuk saling mendukung dalam mewujudkan rasa cinta terhadap alam,” katanya.

    Sementara itu, Administratur Utama Kesatuan Pengelolan Hutan Banten (KPH) Toni Suratno mengungkapkan, puncak Gunung Pinang tersebut memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata, sport dan wahana bermain yang dapat dinikmati masyarakat. “Spot selfie sudah tersedia dan terlihat pengunjung yang antusias untuk merasakan sensasi berfoto dengan berlatar belakang beragam ikon seperti kupu-kupu, bunga love, payung gantung, juga deck love dan downhill,” ucapnya.

    Pihaknya akan terus meningkatkan sarana atraksi wisata di Gunung Pinang seperti penambahan fasilitas yang diharapkan bisa menarik pengunjung atau wisatawan. Selain itu, kawasan perhutani di Banten memiliki luas 78.600 hektare yang akan terus dikembangkan sebagai wahana wisata. “KPH Banten terus berupaya memberikan rasa nyaman ke pengunjung juga menerima masukan untuk terus berinovasi. Dengan dukungan dari berbagai stakeholder terkait, kami yakin bisa memberikan yang terbaik untuk membangun wisata di Banten,” tuturnya. 


    Twitter


    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan