• Thursday, 18 January 2018
  • Perumahan Rakyat


    a:3:{s:2:"id";s:3872:"

    Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Provinsi Banten yang hingga tahun 2004 telah mencapai sekitar 9,3 juta jiwa, kebutuhan akan ketersediaan sarana perumahan dan permukiman semakin meningkat pula. Dengan asumsi laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,18%, maka diperkirakan tingkat kebutuhan perumahan di Provinsi Banten sekitar 72.259 unit/tahun. Dengan demikian dalam lima tahun ke depan kebutuhan akan ketersediaan sarana perumahan di Provinsi Banten yakni mencapai 289.036 unit rumah. Untuk memenuhi kebutuhan akan savana perumahan tersebut maka diperlukan ketersediaan lahan siap bangun seluis ± 2.890.360 m2/tahun.

    \n\n

    Hingga tehun 2004 tingkat hunian penduduk di Provinsi Banten relatif masih rendah, yakni sebesar 52,05%, sehingga masih terdapat sekitar 47,95% kebutuhan akan ketersediaan perumahan yang belum terpenuhi. Dari`sejumlah 2 Penduduk`yang belum memiliki rumah layak huni ± 750.000 KK, sedangkan yang telah memiliki rumah layak huni (mewah, permanen & semi permanen) sebesar ± 1.520.779 KK. Semakin meluasnya kawasan kumuh merupakan permasalahan yang memerlukan perhatian khusus dari Pemerintah. Luasan kawasan kumuh di Provinsi Banten cenderung terus meningkat setiap tahunnya sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan (makin tidak terkendalinya pertumbuhan kota-kota besar yang`menjadi penarik meningkatnya arus migrasi.

    \n\n

    Fenomena ini umumnya berkembang terutama pada wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta yakni Kabupaten dan Kota Tangerang, mengingat kedua wilayah`ini merupakan kawasan penyangga bagi ibukota negara. Kawasan permukiman yang berkembang di wilayah utara Provinsi Banten, antara lain di wilayah hinterland DKI Jakarta (Kab. Tangerang dan Kota Tangerang) dan di sekitar kawasan industridan pariwisata (Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kab. Tangerang, dan Kab. Serang). Hingga tahun 2004 masih terdapat 284,43 Ha Kawasan Kumuh yang bulum ditangani di kabupaten/kota di Provinsi Banten, yang terdiri dari:`Kab/ Serang 96,88 ha, Kab. Pandeglang 29,77 Ha, Kab.Lebak 95,15 Ha, Kab. Tangerang 16,05, Kota Tangerang 20,48 Ha, serta Kota Cilegon 26,11 Ha. Cakuran pelayanan Air Bersih baru mencapai 64,35%, sedang cakupan pelayanan sanitasi dasar mencapai 53,645. Semakin meningkatnya kebutuhan pelayanan air bersih, drainase dan persampahan seiring dengan pertumbuhan kawasan perkotaan, khususnya pada kawasan permukiman, industri, pariwisita, dan agropolitan. Hingga tahun 2004 cakupan pelayanan air barsih baru muncapai 54%, yang diukur dari prasarana yang telah dibangun, adapun pelayanan sanitasi cakupannya masih sangat rendah yakni baru sekitar 32%.

    \n\n

    Adapun rasio Elektrifikasi Rumah Tangga hingga tahun 2003 baru mencapai 93%, sedangkan Rasio Elektrifikasi Desa baru mencapai 71% (sekitar 247 desa belum terlistriki). Potensi sumberdaya energi alternatif meliputi: sumberdaya energi fosil (batubara), energi panas bumi, tenaga air skala kecil, biomassa, tenaga surya, tenaga angin, dan energi gelombang laut. Perkiraan rasio elektrifikasi Provinsi Banten pada tahun 2005 sekitar 58,2%. Sedangkan perkiraan kebutuhan masing-masing kabupaten/kota adalah: Kabupaten Pandeglang 4,8%, Kabupaten Lebak 4,8%, Kabupaten Tangerang 15,1%, Kabupaten Serang 3,1%, Kota Tangerang 4,3%, Kota Cilegon 7,6%. Kondisi ini membutuhkan penanganan yang intensif terutama dalam rangka mendukung pencapaian target MDG’s 2015 yang telah menjadi komitmen pemerintah RI.

    \n";s:2:"en";s:3347:"

    Along with the increase of population in Banten province, which until 2004 had reached about 9.3 million people, the need for the availability of housing and settlements is increasing as well. Assuming a population growth rate of 3.18%, the estimated level of housing need in Banten province about 72 259 units / year. Thus in the next five years will be the availability of housing needs in Banten province, reaching 289 036 housing units. To meet the demand for housing savanna is then required the availability of land ready to build seluis ± 2.89036 million m2 / year.
    \n
    \nUntil tehun 2004 occupancy rate in Banten province population is still relatively low, which amounted to 52.05%, so that there are approximately 47.95% of the availability of housing needs unmet. Dari`sejumlah 2 Penduduk`yang not have appropriate housing ± 750,000 households, while that already have appropriate housing (luxury, permanent and semi-permanent) of ± 1,520,779 households. The more widespread slum areas is a problem that requires special attention from the Government. The area of slums in Banten province tends to increase each year in line with population growth and (increasingly uncontrolled growth of large cities yang`menjadi towing increasing migration flows.
    \n
    \nThis phenomenon is generally grown mainly in areas immediately adjacent to the district of Jakarta and Tangerang, considering both wilayah`ini a buffer zone for the capital of the country. Growing residential area in the northern region of the province of Banten, among others, in the hinterland of Jakarta (Kab. Tangerang and Tangerang City) and in the surrounding area of tourism industridan (Tangerang City, Cilegon City, Regency. Tangerang, and the district. Attack). Until 2004 there are 284.43 hectares that bulum Slum Areas addressed in the district / city in Banten province, which consists of: `Kab / Attack 96.88 ha, Kab. Pandeglang 29.77 Ha, Kab.Lebak 95.15 Ha, Regency. Tangerang 16.05, 20.48 Ha Tangerang City and Cilegon City 26.11 Ha. Cakuran Water services reached 64.35%, while basic sanitation coverage reached 53.645. The increasing need for clean water services, drainage and solid waste in line with the growth of urban areas, particularly in residential areas, industrial, pariwisita, and Agropolitan. Until 2004 new barsih water service coverage muncapai 54%, as measured from the infrastructure that has been built, while the sanitation coverage is still very low at only about 32%.
    \n
    \nThe Household Electrification ratio until 2003 only reached 93%, while the new Rural Electrification ratio reached 71% (approximately 247 villages have not terlistriki). The potential of alternative energy resources include: fossil energy resources (coal), geothermal energy, small-scale hydropower, biomass, solar power, wind power, and ocean wave energy. Estimated electrification ratio Banten province in 2005 approximately 58.2%. While estimates of the needs of each district / city are: 4.8% Pandeglang, Lebak District 4.8%, 15.1% Tangerang, Serang 3.1%, 4.3% Tangerang City, Cilegon City 7, 6%. This condition requires intensive treatment, especially in order to support the achievement of the MDG's in 2015 which has become the commitment of the Indonesian government.

    \n";s:2:"zh";s:2681:"

    随着人口的万丹省的增长,直到2004年已达到约9.3亿人,需要对住房和定居点不断增加以及可用性。假设3.18%,人口增长率,在万丹省的住房需求约72 259台/年的估计水平。因此,在未来五年内将成为住房需求在万丹省的可用性,达到了289 036套住房。为了满足对住房的稀树草原的需求,然后需要土地供应准备建立seluis±2890360平方米/年。
    \n
    \n直到2004年特混入住率在万丹省三级人口比例还比较低,总额为52.05%,因此,有住房的供应约47.95%,需要得到满足。 Dari`sejumlah 2 Penduduk`yang没有合适的住房±750000户,而已经具备±1520779户适当的住房(高档,永久性和半永久性的)。更广泛的贫民窟地区是一个需要特别关注政府的一个问题。在万丹省贫民窟的面积往往每年人口增长和(越来越不受控制大城市yang`menjadi牵引增加移民流动的增加而增长。
    \n
    \n这种现象一般是主要生长在紧邻雅加达和丹格朗的区地区,同时考虑wilayah`ini缓冲区为国家的首都。在万丹省,其中包括北部地区不断增长的居住区,在雅加达(KAB。唐格朗和丹格朗市)的腹地和旅游industridan的周边地区(文登市,芝勒贡市丽景,丹格朗,和区。攻击)。直到2004年还有284.43公顷是bulum贫民窟地区的区/市在万丹省,其中包括解决:`KAB /攻击96.88公顷,KAB。 Pandeglang 29.77哈,Kab.Lebak 95.15哈,摄政。丹格朗16.05,20.48哈文登市和芝勒贡市26.11公顷。 Cakuran供水服务达到了64.35%,而基本的卫生设施覆盖率达到53.645。越来越需要清洁水务,排水,并与城市地区的增长线固体废物,特别是在居民区,工业,pariwisita和Agropolitan。直到2004年新barsih自来水覆盖率muncapai 54%,从已建成的基础设施的测量,而卫生设施覆盖率还很低只有32%左右。
    \n
    \n住户电气化率直到2003年才达到93%,而新农村电气化率达到71%(约247个村庄没有terlistriki)。替代能源资源的潜力,包括:化石能源(煤炭),地热能,小水电,生物质能,太阳能发电,风力发电和海浪能量。估计电气化比率万丹省,2005年约为58.2%。而每个区/市的需求估计:4.8%Pandeglang,勒巴克区4.8%,15.1%,丹格朗,西朗3.1%,4.3%丹格朗市,芝勒贡市7, 6%。这种情况需要强化治疗,特别是为了支持实现千年发展目标的2015年已经成为印尼政府的承诺。

    \n";}

    Twitter


    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan