• Tuesday, 17 October 2017
  • Profil Kota Tangerang


    a:3:{s:2:"id";s:3519:"

    \"\"

    \n\n

    Sekilas Sejarah Kota Tanggerang

    \n\n

    Pembangunan Kota Administratif Tangerang secara makro berpijak pada kebijaksanaan pembangunan berdasarkan prioritas tahapan Repelita dimulai sejak Pelita I sampai dengan Pelita V. Selain bertitik tolak dari prioritas tersebut, ada beberapa faktor pendorong dan faktor penarik diantaranya berdasarkan undang-undang Nomor 14 Tahun 1950 Kota Tangerang ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten, pesatnya pertumbuhan ekonomi yang memungkinkan dapat memperbaiki kualitas kehidupan, masih banyak tersedianya sumber daya alam sehingga dapat menarik investor yang dapat menyerap lapangan kerja baru.
    \n 
    \nSedangkan dalam lingkup Jabotabek sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976, Tangerang termasuk wilayah pengembangan Jabotabek yang dipersiapkan untuk mengurangi ledakan penduduk DKI Jakarta, mendorong kegiatan perdagangan dan industri yang berbatasan dengan DKI Jakarta, mengembangkan pusat-pusat pemukiman dan mengusahakan keserasian pembangunan antara DKI Jakarta dengan daerah yang berbatasan langsung.
    \n 
    \nPertumbuhan penduduk Kota Administratif Tangerang melaju begitu tinggi. Hal ini terlihat pada data yang dituangkan dalam Rencana Umum Kota Tangerang (Perda Nomor 4 tahun 1985) Kota Administratif tangerang dapat menampung 850.000 jiwa. Menurut sensus tahun 1990 penduduk Kota Administratif Tangerang telah mencapai 921.848 jiwa.
    \n 
    \nLonjakan jumlah penduduk disebabkan terutama karena kedudukan dan peranan Kota Tangerang sebagai daerah penyangga DKI Jakarta (hinterland city). Sebagai konsekuensinya, Kota Administratif Tangerang menjadi konsentrasi wilayah pemukiman penduduk dan menjadi tempat kegiatan perdagangan terutama pada sektor industri. Perkembangan sektor perdagangan dan industri di kawasan ini memancing derasnya arus imigrasi sirkuler penduduk. Dilihat dari pertumbuhan penduduk dan dibandingkan dengan jumlah penduduk beberapa Kotamadya di Jawa Barat, Kota Administratif Tangerang jauh lebih tinggi.
    \n 
    \nPerkembangan perekonomian pada tahun 1989/1990, nilai investasi dari PMA dan PMDN mencapai US $ 1.191.585.352,00 dan nilai Non Fasilitas Industi Kecil Formal berjumlah Rp. 12.860.551.553,99. Perkembangan tersebut didorong pula oleh perkembangan wilayah yakni dengan adanya Pelabuhan Udara Soekarno-Hatta dan Jalan Bebas Hambatan (Jalan Toll, Access Road).
    \n 
    \nPendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Administratif Tangerang pada tahun 1991/1992 mencapai Rp. 7.066.500.536,00 dan untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar Rp. 3.284.847.747,74 serta PBB kawasan bandara Soekarno-Hatta sebesar Rp. 1.900.000.000,00.
    \n 
    \nMelihat indikator pertumbuhan kota dengan faktor pengaruh yaitu faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor), menurut pengelolaan serta pengendalian urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan yang lebih cepat dan terarah agar pelayanan masyarakat berjalan lebih baik. Dalam hal ini seyogyanya Kota Administratif Tangerang dikembangkan menjadi daerah otonom.

    \n\n


    \nWebsite Kota Tanggerang : https://www.tangerangkota.go.id/

    \n";s:2:"en";s:3228:"

    \"\"

    \n\n

    Tangerang City History at a Glance

    \n\n

    Development of the City of Tangerang macro development policy rests on a priority basis Repelita stages starting from Pelita Pelita I to V. In addition to the starting point of these priorities, there are several factors push and pull factors which are based on Law No. 14 Year 1950 Tangerang City designated as Capital District, the rapid economic growth that allows to improve the quality of life, there are still plenty of availability of natural resources so as to attract investors who can absorb new jobs.
    \n 
    \nWhile the scope of the Greater accordance with Presidential Decree No. 13 of 1976, including the development of Greater Tangerang prepared to reduce the population explosion of Jakarta, to encourage trade and industrial activities bordering Jakarta, developing urban centers and seek harmony between the development of Jakarta the immediately adjacent area.
    \n 
    \nThe population growth of the City of Tangerang drove so high. This can be seen in the data set forth in the General Plan Tangerang (Regulation No. 4 in 1985) of the City of Tangerang can accommodate 850,000 people. According to the 1990 census the population of the City of Tangerang has reached 921 848 inhabitants.
    \n 
    \nThe surge in population caused mainly due to the position and role of the city of Tangerang as the buffer area of Jakarta (hinterland city). As a consequence, the City of Tangerang into concentration residential areas and become a trading activities, especially in the industrial sector. The development of trade and industry in this region fishing swift currents circular immigration population. Judging from the growth of population and compared with a population of some municipalities in West Java, Tangerang City Administrative much higher.
    \n 
    \nThe development of the economy in the year 1989/1990, the value of domestic and foreign investment reached US $ 1,191,585,352.00 and the value of Non Small Industi Facilities Formal amounted to Rp. 12,860,551,553.99. The development is also stimulated by the development of the region with the Soekarno-Hatta Airport and Motorway (Toll Road, Access Road).
    \n 
    \nRevenue (PAD) of the City of Tangerang in 1991/1992 reached Rp. 7,066,500,536.00 and for land and building tax (PBB) Rp. 3,284,847,747.74 and the United Nations Soekarno-Hatta region Rp. 1,900,000,000.00.
    \n 
    \nSee indicators of urban growth by a factor of influence is the driving factor (push factor) and pull factors (pull factor), according to the management and control of government affairs and community development faster and directed in order to better service the running community. In this case the City of Tangerang should be developed into an autonomous region.

    \n\n


    \nTangerang City Website: https://www.tangerangkota.go.id/

    \n";s:2:"zh";s:2532:"

    \"\"

    \n\n

    丹格朗市历史一览

    \n\n

    市的丹格朗宏观发展政策的发展依赖于距离Pelita明灯我开始V.除了这些优先事项的出发点优先Repelita阶段,有几个因素推拉这是基于第14号法律因素定为首都区,经济的快速增长,可以改善生活质量1950年文登市,仍然有大量的自然资源供应,以吸引投资者谁可以吸收新的就业机会。

    \n\n

    而大按照1976年第13号总统令,其中包括文登大的发展空间准备减低雅加达的人口爆炸,鼓励贸易和工业活动雅加达接壤,发展中心城市,谋求发展的和谐雅加达紧邻区域。

    \n\n

    在文登市的人口增长带动如此之高。这可以看出,在载于文登市的总体规划丹格朗(1985年第4号条例),可容纳85万人的数据。根据1990年人口普查的文登市的人口已经达到了921 848居民。

    \n\n

    人口的激增引起的,主要是由于位置和丹格朗市的雅加达(腹地城市)的缓冲区的作用。其结果是,在文登市进入集中居住区,成为一个贸易活动,特别是在工业部门。贸易和工业在该地区捕鱼急流圆形的移民人口的发展。从人口的增长情况来看,用在西爪哇,文登市行政更高一些城市的人口比较。

    \n\n

    经济在1989/1990年的发展,国内和国外投资的价值达到了$ 1,191,585,352.00和非小Industi设施正式价值达卢比。 12,860,551,553.99。发展也刺激了与苏加诺 - 哈达机场和高速公路(收费公路,便道),该地区的发展。

    \n\n

    在1991/1992年的文登市的收入(PAD)达到卢比。 7,066,500,536.00以及土地和建筑税(PBB)卢比。 3,284,847,747.74和联合国苏加诺 - 哈达地区卢比。 1,900,000,000.00。

    \n\n

    受影响的因素看到城市发展的指标的驱动因素(推动因素),并拉动因素(拉动因素),根据管理和政府事务和社会发展较快的控制和指导,以更好的服务正在运行的社区。在这种情况下,市格朗的应发展成为一个独立的区域。

    \n\n


    \n丹格朗市网站:http: //www.tangerangkota.go.id/

    \n";}

    Twitter


    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan