• Tuesday, 17 October 2017
  • Profil Kabupaten Tangerang


    a:3:{s:2:"id";s:7271:"

    \"\"

    \n\n

    Sekilas Tentang Kab. Tangerang

    \n\n

    Dalam riwayat diceritakan, bahwa saat Kesultanan Banten terdesak oleh Agresi Militer Belanda pada pertengahan abad ke-16, diutuslah tiga maulana yang berpangkat Tumenggung untuk mem­buat perkampungan pertahanan di wilayah yang berbatasan dengan Batavia. Ketiga Tumenggung itu adalah, Tumenggung Aria Yudhanegara, Aria Wangsakara, dan Aria Jaya Santika. Mereka segera mem­bangun basis pertahanan dan pemerintahan di wilayah yang kini dikenal sebagai kawasan Tigaraksa.

    \n\n

    Jika merunut kepada legenda rakyat dapat disimpulkan bahwa cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksa. Nama Tigaraksa itu sendiri berarti Tiang Tiga atau Tilu Tanglu, sebuah pemberian nama sebagai wujud penghormatan kepada tiga Tumenggung yang menjadi tiga pimpinan ketika itu. Seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian Barat Sungai Cisadane, saat ini diyakini berada di Kampung Gerendeng. Waktu itu, tugu yang dibangun Pangeran Soegri dinamakan sebagai Tangerang, yang dalam bahasa Sunda berarti tanda.

    \n\n

    Prasasti yang tertera di tugu tersebut ditulis dalam huruf Arab ”gundul” berbahasa Jawa kuno yang berbunyi ”Bismillah pget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/Rengsena perang netek Nangaran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”. Yang berarti ”Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa/Dari Kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/untuk mempertahankan batas Timur Cipamungas (Cisadane) dan Barat Cidurian/Semua menjaga tanah kaum Parahyang. Sebutan ”Tangeran” yang berarti ”tanda” itu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang sebagaimana yang dikenal sekarang ini.

    \n\n

    Dikisahkan,bahwa kemudian pemerintahan ”Tiga Maulana”, ”Tiga Pimpinan” atau ”Tilu Tanglu” tersebut tumbang pada tahun 1684, seiring dengan dibuatnya perjanjian antara Pasukan Belanda dengan Kesultanan Banten pada 17 April 1684. Perjanjian tersebut memaksa seluruh wilayah Tangerang masuk ke kekuasaan Penjajah Belanda. Kemudian, Belanda membentuk pemerintahan kabupaten yang lepas dari Kesultanan Banten di bawah pimpinan seorang bupati.
    \nPara bupati yang pernah memimpinan Kabupaten Tangerang di era pemerintahan Belanda pada periode tahun 1682-1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII.

    \n\n

    Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tidak mampu lagi memerintah Kabupaten Tangerang, Belanda mengahpus pemerintahan ini dan memindahkannya ke Batavia. Kemudian Belanda membuat kebijakan, sebagian tanah di Tangerang dijual kepada orang-orang kaya di Batavia, yang merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk membantu usaha pertahanannya, terutama sejak

    \n\n

    kekalahan armadanya di dekat Mid-Way dan Kepulauan Solomon.
    \nKemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi militer, diantaranya yang terpenting ialah Keibodan (barisan bantu polisi) dan Seinendan (barisan pemuda). Disusul pemindahan kedudukan Pemerintahan Jakarta ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M. Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera.
    \nSeiring dengan status daerah Tangerang ditingkatkan menjadi Daerah Kabupaten, maka daerah Kabupaten Jakarta menjadi Daerah Khusus Ibu Kota.

    \n\n

    Di wilayah Pulau Jawa pengelolaan pemerintahan didasarkan pada Undang-undang nomor 1 tahun 1942 yang dikeluarkan setelah Jepang berkuasa. Undang-undang ini menjadi landasan pelaksanaan tata Negara yang azas pemerintahannya militer.
    \nPanglima Tentara Jepang, Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, diserahi tugas untuk mem­bentuk pemerintahan militer di Jawa, yang kemudian diangkat sebagai gunseibu. Seiring dengan hal itu, pada bulan Agustus 1942 dikeluarkan Undang-undang nomor 27 dan 28 yang mengakhiri keberadaan gunseibu.

    \n\n

    Berdasarkan Undang-undang nomor 27, struktur pemerintahan militer di Jawa dan Ma­dura terdiri atas Gunsyreikan (pemerintahan pusat) yang membawahi Syucokan (residen) dan dua Kotico (kepala daerah istimewa). Syucokan membawahi Syico (walikota) dan Kenco (bupati). Secara hirarkis, pejabat di bawah Kenco adalah Gunco (wedana), Sonco (camat) dan Kuco (kepala desa).
    \nPada tanggal 8 Desember 1942 bertepatan dengan peringatan Hari Pembangunan Asia Raya, pemerintah Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta.
    \nPada akhir 1943, jumlah kabupaten di Jawa Barat mengalami perubahan, dari 18 menjadi 19 kabupaten. Hal ini disebabkan, pemerintah Jepang telah mengubah status Tangerang dari kewedanaan menjadi kabupaten. Perubahan status ini didasarkan pada dua hal; pertama,kota Jakarta ditetapkan sebagai Tokubetsusi (kota praja), dan kedua, pemerintah Kabupaten Jakarta dinilai tidak efektif membawahi Tangerang yang wilayahnya luas.

    \n\n

    Atas dasar hal tersebut, Gunseikanbu mengeluarkan keputusan tanggal 9 November 1943 yang isinya: ”Menoeroet kepoetoesan Gunseikan tanggal 9 boelan 11 hoen syoowa 18 (2603) Osamu Sienaishi 1834 tentang pemindahan Djakarta Ken Yakusyo ke Tangerang, maka diper­makloemkan seperti di bawah ini: Pasal 1: Tangerang Ken Yakusyo bertempat di Kota Tangerang, Tangerang Son, Tangerang Gun, Tangerang Ken. Pasal 2: Nama Djakarta Ken diganti menjadi Tangerang Ken. Atoeran tambahan Oendang-Oendang ini dimulai diberlakukan tanggal27 boelan 12 tahoen Syouwa 18 (2603). Djakarta, tanggal 27 boelan 12 tahoen Syouwa 18 (2603). Djakarta Syuutyookan.

    \n\n

    Sejalan dengan keluarnya surat keputusan tersebut, Atik Soeardi yang menjabat sebagai pembantu Wakil Kepala Gunseibu Jawa Barat, Raden Pandu Suradiningrat, diangkat menjadi Bupati Tangerang (1943-1944).
    \nSemasa Bupati Kabupaten Tangerang dijabat, H. Tadjus Sobirin (1983-1988 dan 1988- 1993) bersama DPRD Kabupaten Tangerang pada masa itu, menetapkan hari jadi Kabupaten Tangerang tanggal 27 Desember 1943 (Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun 1984 tanggal 25 Oktober 1984).

    \n\n

    Seiring dengan pemekaran wilayah dengan terbentuknya pemerintah Kota Tangerang tanggal 27 Februari 1993 berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1993, maka pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pindah ke Tigaraksa. Pemindahan ibukota ke Tigaraksa dinilai strategis, karena menggugah kembali cita-cita dan semangat para pendiri untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang bebas dari belenggu penjajahan (kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan) menuju masyarakat yang mandiri, maju dan sejahtera.

    \n\n

    Website Kabupaten Tanggerang : https://www.tangerangkab.go.id/

    \n";s:2:"zh";s:5556:"

    \"\"

    \n\n

    区概述。Tanggerang

    \n\n


    \n在历史上被告知,当万丹苏丹国在16世纪中叶推动由荷兰军事侵略,三毛拉diutuslah排名英雄会员,使该地区接壤巴达维亚防御解决。第三英雄会员就是英雄会员Yudhanegara咏叹调,晓月Wangsakara和晓月再也珊迪卡。他们迅速成立了基地防御和政府在现在被称为Tigaraksa区域的区域。
    \n
    \n如果我们按照民间传说,可以得出结论,丹格朗摄政的起源是Tigaraksa。 Tigaraksa的名字本身就意味着望三,Tilu塘路,命名为祭奠三英雄会员谁成为三国领导人在当时的一种形式。在西部Cisadane万丹苏丹国苏丹阿贡阿贡的儿子建碑碑文,目前被认为是在甘榜Gerendeng。当时,该碑始建王子Soegri命名为文登,这在巽意味着迹象。
    \n
    \n写 在石碑碑文写的,上面写着“比斯米拉赫PGET ingkang古斯蒂/ Diningsun juput parenah时间星期六/平Gangsal Sapar年瓦乌/ Rengsena战争netek Nangaran / bungas wetan Cipamugas Kilen Cidurian / Sakabeh Angraksa Sitingsun阿拉伯文字”裸“古爪哇语Parahyang“。这意味着“在真主的名义全能/从我们采取了一个机会,上周六/日5 Sapar年瓦乌/战争结束后,我们赌纪念碑/维持东边界Cipamungas(Cisadane)和西Cidurian /所有Parahyang保持土地。术语“Tangeran”,意思是“签到”,最终更名为文登,因为它是目前已知的。
    \n
    \n据说,当时的政府“三大毛”,“三代领导人”或“Tilu塘路”于1684年的崩溃,在4月17日作出的荷兰队与万丹苏丹国之间的协议行,1684该协议迫使整个地区陷入权力丹格朗占领者荷兰。随后,荷兰成立万丹苏丹国区政府掀起了摄政王的领导下。
    \n该试剂从未memimpinan丹格朗在荷兰政府在1682至1809年期间是Kyai咏叹调Soetadilaga I-VII。
    \n
    \n下山后咏叹调Soetadilaga评估不再能够支配丹格朗,荷兰mengahpus此规则,并将其移动到巴达维亚。荷兰则制定政策,有的在文登的土地出售给富人巴达维亚,其中招收青年印尼,协助防御工作,特别是因为
    \n
    \n打败车队附近中途和所罗门群岛。
    \n然后在1943年4月29日建立了几个军事组织,其中最重要的是Keibodan(辅助警察的警戒线)和Seinendan(青年队)。随后除去政府在雅加达的位置丹格朗为首Kentyo M.阿提克Soeardi与Java Madoera总督的顺序NITO Gyoosieken Tihoo军衔。
    \n随着状态的提升为唐格朗区,该地区成为雅加达专项资金的地方区。
    \n
    \n在Java治理面积基础上,1942年1号法令日本执政后发表。此法成为军事统治的国家实施的基础原则。
    \n日本陆军司令,中将今村均,负责建立军事统治在Java中,这是当时任命为Gunseibu。与它一起,在1942年8月发行的法第27和28,从而杜绝Gunseibu的存在。
    \n
    \n根据第27号法律,在爪哇和马都拉军事统治的结构由Gunsyreikan(中央政府)负责Syucokan(居民)和两个Kotico(头的特殊地区)的。 Syucokan监督Syico(市长)和肯科(丽晶)。分级的方式,肯科下的官员是Gunco(区官),SONCO(区长)和kuco(村长)。
    \n在1942年12月8日与亚洲开发纪念一致,日本政府改变了巴达维亚的名字成为雅加达。
    \n在1943年末,区西爪哇不变的数量,从18到19个区县。这是因为,日本政府已经改变kewedanaan的状态是丹格朗摄政。这种变化的状态是基于两件事情;首先,指定为Tokubetsusi(市),其次城市,政府雅加达区被认为是无效的负责丹格朗大片领土。
    \n
    \n以 此为由,Gunseikanbu发行日期为1943年11月9日决定,写着:“Menoeroet kepoetoesan Gunseikan 9 Boelan 11霍恩syoowa 18(2603)修Sienaishi 1834年在雅加达肯Yakusyo来唐格朗的转移,然后dipermakloemkan如下:第1条:丹格朗肯Yakusyo位于唐格朗,丹格朗儿子,文登枪,丹格朗肯。第2条:名称变更为唐格朗雅加达啃啃。附加Atoeran Oendang-Oendang开始执行tanggal27 Boelan 12 tahoen Syouwa 18(2603)。雅加达,27 Boelan 12 tahoen Syouwa 18(2603)。 Syuutyookan雅加达。
    \n
    \n在与该法令线,阿提克Soeardi谁担任幕僚副主任Gunseibu西爪哇,拉登Suradiningrat潘杜,被任命为文登(1943-1944年)的摄政。
    \n在丹格朗摄政举行,H. Tadjus Sobirin(1983-1988年和1988- 1993年),连同丹格朗区议会的时候,一天设置,以便唐格朗日期1943年12月27日(区条例第18号日期为1984年10月25日1984)。
    \n
    \n随着该地区与文登的政府对1993年2月27日形成的1993年第2号法案的扩大,中央政府转移到Tigaraksa丹格朗摄政。首都Tigaraksa转移考虑的战略,为唤起回的理想和创始人的精神,以实现社会,是免费的,从殖民主义的枷锁(贫困,愚昧和落后)的独立的社区,进步和繁荣的秩序。
    \n
    \n丹格朗摄政网站:https://www.tangerangkab.go.id/

    \n";s:2:"en";s:6471:"

    \"\"

    \n\n

    Overview of the Tanggerang District

    \n\n

    In the history is told, that when the Sultanate of Banten pushed by Dutch military aggression in the mid 16th century, three maulana diutuslah ranking Hero Member to make a defense settlement in the region bordering Batavia. Third Hero Member that is, Hero Member Yudhanegara Aria, Aria Wangsakara, and Aria Jaya Santika. They quickly set up a base defense and government in the region now known as Tigaraksa region.
    \n
    \nIf we follow the folk legends can be concluded that the origin of Tangerang Regency is Tigaraksa. Tigaraksa name itself means the Pillar Three or Tilu Tanglu, a naming as a form of homage to the three Hero Member who becomes three leaders at the time. A son of Sultan Agung Tirtayasa of the Sultanate of Banten build monument inscriptions in the western part Cisadane, currently believed to be in Kampong Gerendeng. At that time, the monument was built Prince Soegri named as Tangerang, which in Sundanese means sign.
    \n
    \nInscriptions written on the monument is written in the Arabic script "bare" ancient Javanese language that reads "Bismillah PGET ingkang Gusti / Diningsun juput parenah time Saturday / Ping Gangsal Sapar Year Wau / Rengsena war netek Nangaran / bungas wetan Cipamugas Kilen Cidurian / Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang ". Which means "In the name of Allah the Almighty / From We took a chance on Saturday / Date 5 Sapar Year Wau / After the war we staked monument / to maintain the East boundary Cipamungas (Cisadane) and West Cidurian / All Parahyang keep the land. The term "Tangeran" which means "sign" that eventually changed the name into Tangerang, as it is known today.
    \n
    \nIt is said, that the then government "Three Maulana", "Three Leaders" or "Tilu Tanglu" The collapse in 1684, in line with the agreement made between the Dutch forces with the Sultanate of Banten on April 17, 1684. The agreement forced the entire region into the power Tangerang Occupiers The Netherlands. Then, the Dutch established district government of the Sultanate of Banten off under the leadership of a regent.
    \nThe regents were never memimpinan Tangerang in the administration of the Netherlands in the period 1682-1809 is Kyai Aria Soetadilaga I-VII.
    \n
    \nAfter the descent Aria Soetadilaga assessed no longer able to govern Tangerang, Netherlands mengahpus this rule and move it to Batavia. Dutch then make policy, some of the land in Tangerang sold to rich people in Batavia, which recruit youths Indonesia to help the defense effort, especially since
    \n
    \ndefeat fleet near Mid-Way and the Solomon Islands.
    \nThen on 29 April 1943 established several military organizations, among which the most important is Keibodan (auxiliary police cordon) and Seinendan (youth ranks). Followed by removal of the position of government in Jakarta to Tangerang led by Kentyo M. Atik Soeardi with Nito Gyoosieken Tihoo rank on the order of the Governor of Java Madoera.
    \nAlong with the status upgraded to Tangerang District, the area became the Regional District of Jakarta Special Capital.
    \n
    \nIn the area of Java governance was based on Law No. 1 of 1942 issued after Japan's ruling. This law became the foundation principle of the implementation of the State of military rule.
    \nJapanese Army Commander, Lieutenant General Hitoshi Imamura, tasked to establish military rule in Java, which was then appointed as Gunseibu. Along with it, in August 1942 issued Law No. 27 and 28, which put an end to the existence of Gunseibu.
    \n
    \nUnder Law No. 27, the structure of military rule in Java and Madura consists of Gunsyreikan (central government) in charge Syucokan (resident) and two Kotico (head of the special region). Syucokan oversees Syico (mayor) and Kenco (regent). Hierarchical manner, officials under Kenco is Gunco (district officer), Sonco (district head) and kuco (village chief).
    \nOn December 8, 1942 to coincide with the commemoration of the Asian Development, the Japanese government changed the name of Batavia became Jakarta.
    \nIn late 1943, the number of districts in West Java unchanged, from 18 to 19 districts. This is due, the Japanese government has changed the status of kewedanaan be Tangerang regency. This change in status is based on two things; first, the city designated as Tokubetsusi (municipal), and secondly, the government district of Jakarta is considered ineffective in charge Tangerang vast territory.
    \n
    \nOn that ground, Gunseikanbu issued a decision dated November 9, 1943, read: "Menoeroet kepoetoesan Gunseikan 9th Boelan 11 Hoen syoowa 18 (2603) Osamu Sienaishi 1834 on the transfer of Djakarta Ken Yakusyo to Tangerang, then dipermakloemkan as follows: Article 1: Tangerang Ken Yakusyo located in Tangerang, Tangerang Son, Tangerang Gun, Tangerang Ken. Article 2: Name changed to Tangerang Djakarta Ken Ken. Additional Atoeran Oendang-Oendang started enforced tanggal27 Boelan 12 tahoen Syouwa 18 (2603). Djakarta, 27th Boelan 12 tahoen Syouwa 18 (2603). Syuutyookan Djakarta.
    \n
    \nIn line with the decree, Atik Soeardi who served as aide to Vice Chief Gunseibu West Java, Raden Suradiningrat Pandu, was appointed Regent of Tangerang (1943-1944).
    \nDuring Tangerang Regent held, H. Tadjus Sobirin (1983-1988 and 1988- 1993) together with the Tangerang District Council at the time, set the day so Tangerang dated December 27, 1943 (Regional Regulation No. 18 of 1984 dated October 25, 1984).
    \n
    \nAlong with the expansion of the region with the formation of the government of Tangerang on February 27, 1993 by Act No. 2 of 1993, the central government moved to Tigaraksa Tangerang regency. The transfer of the capital to Tigaraksa considered strategic, as evocative back the ideals and spirit of the founders to realize an order of a society that is free from the shackles of colonialism (poverty, ignorance and backwardness) to the independent community, progress and prosperity.
    \n
    \nTangerang Regency website: https://www.tangerangkab.go.id/

    \n";}

    Twitter


    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan