• Tuesday, 17 October 2017
  • Profil Kabupaten Serang


    a:3:{s:2:"id";s:8400:"

    \"\"

    \n\n

    Sekilas Tentang Kab. Serang

    \n\n

    Sejarah Kabupaten Serang tentunya tidak terlepas daripada sejarah Banten pada umumnya, karena Serang semula merupakan bagian dari wilayah Kerajaan / Kesultanan Banten yang berdiri pada Abad ke XVI dan Pusat  Pemerintahannya terletak di Daerah Serang.

    \n\n

    Sebelum abad ke XVI, berita-berita tentang Banten tidak banyak tercatat dalam sejarah, konon pada mulanya Banten masih merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Sunda, penguasa Banten pada saat itu adalah Prabu Pucuk Umum, Putera dari Prabu Sidaraja Pajajaran. Adapun pusat Pemerintahannya bertempat di Banten Girang (±3 Km di Selatan Kota Serang) pada abad ke VI, Islam mulai masuk ke Banten di bawa oleh sunan Gunung Jatiatau Syech Syarifudin Hidayatullah yang secara berangsur-angsur mengembangkan Agama Islam di Banten dan sekitarnya serta dapat menaklukan pemerintahan Prabu Pucuk Umum (Tahun 1524-1525  M). Selanjutnya Beliau mendirikan Kerajaan/Kesultanan Islam di Banten dengan mengangkat puteranya bernama Maulana Hasanuddin menjadi Raja / Sultan Banten yang pertama yang berkuasa  ± 18 tahun (Tahun 1552-1570 M). Atas prakarsa Sunan Gunung Jati, pusat pemerintahan yang semula bertempat di Banten Girang dipindahkan ke Surosowan Banten lama (Banten lor) yang terletak  ± 10 Km di sebelah Utara Kota Serang.

    \n\n

    Setelah Sultan Hasanuddin wafat (Tahun 1570), digantikan oleh puteranya yang bernama Maulana Yusuf sebagai Raja Banten yang kedua (Tahun 1570-1580 M) dan selanjutnya diganti oleh Raja / Sultan yang ketiga, keempat dan seterusnya sampai dengan terakhir Sultan yang ke 21 (Dua Puluh Satu) yaitu Sultan Muhammad Rafiudin yang berkuasa pada Tahun 1809 sampai dengan 1816. Jadi periode Kesultanan/Kerajaan Islam di Banten berjalan selama kurun waktu ± 264 Tahun yaitu dari Tahun 1552 s/d 1816.

    \n\n

    Pada zaman Kesultanan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting, terutama pada akhir abad ke XVI (Juni 1596), dimana orang-orang Belanda datang untuk pertama kalinya mendarat di Pelabuhan Banten dibawah pimpinan Cornelis De Houtman dengan maksud untuk berdagang. Namun sikap yang congkak dari orang-orang Belanda tidak menarik simpati dari Pemerintah dan Rakyat Banten saat itu, sehingga sering timbul ketegangan diantara masyarakat Banten dengan orang-orang Belanda.

    \n\n

    Pada saat tersebut, Sultan yang bertahta di Banten adalah Sultan yang ke IV  yaitu Sultan Abdul Mufakir Muhammad Abdul Kadir yang waktu itu masih belum dewasa/bayi, sedang yang bertindak sebagai walinya adalah Mangkubumi Jayanegara yang wafat kemudian pada tahun 1602 dan diganti oleh saudaranya yaitu Yudha Nagara.

    \n\n

    Pada Tahun 1608 Pangeran Ramananggala diangkat sebagai Patih Mangkubumi. Sultan Abdul Mufakir mulai berkuasa penuh dari Tahun 1624 s/d Tahun 1651 dengan R amanggala sebagai Patih dan Penasehat Utamanya. Sultan Banten yang ke VI adalah Sultan Abdul Fatah cucu Sultan ke V yang terkenal dengan julukan Sultan Ageng Tirtayasa yang memegang tampuk pemerintahan dari Tahun 1651 sampai dengan 1680 (±selama 30 Tahun). Pada masa pemerintahannya Bidang  Politik, Perekonomian, Perdagangan, Pelayaran maupun Kebudayaan berkembang maju dengan pesat. Demikian pula kegigihan dalam menetang Kompeni Belanda. Atas kepahlawanannya dalam perjuangan menentang Kompeni Belanda, maka berdasarkan Surat  Keputusan Presiden Republik Indonesia, Sultan Ageng Tirtayasa dianugrahi kehormatan predikt sebagai Pahlawan Nasional.

    \n\n

    Pada waktu berkuasanya Sultan Ke VI ini, sering terjadi bentrokan dan peperangan dengan para Kompeni Belanda yang pada waktu itu telah berkuasa di Jakarta. Dengan cara Politik Adu Domba (Devide Et Impera) terutama dilakukan antara Sultan Ageng Tirtayasa yang anti Kompeni dengan puteranya Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) yang pro Kompeni Belanda dapat melumpuhkan kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya tidak berdaya dan menyingkir ke pedalaman, namun dengan bujukan Sultan Haji, Sultan Ageng Tirtayasa dapat ditangkap kemudian ditahan dan dipenjarakan di Batavia hingga wafatnya pada tahun 1692. Namun sekalipun Sultan Ageng Tirtayasa sudah wafat, perjuangan melawan Belanda terus berkobar dan dilanjutkan oleh pengikutnya yang setia dengan gigih dan pantang menyerah.
    \nSejak wafatnya Sultan Ageng Tirtayasa, maka kesultanan Banten mulai mundur (suram), karena para Sultan berikutnya sudah mulai terpengaruh oleh kompeni Belanda sehingga pemerintahannya mulai labil dan lemah.

    \n\n

    Pada Tahun 1816 Kompeni Belanda dibawah pimpinan Gubernur Vander Ca pellen datang ke Banten dan mengambil alih kekuasaan Banten dari Sultan Muhammad Rafiudin. Belanda membagi wilayah menjadi tiga bagian/negeri yaitu Serang, Lebak dan Caringin dengan kepala negerinya disebut Regent (Bupati), sebagai Bupati pertama untuk Serang diangkat Pangeran Aria Adi Santika dengan pusat pemerintahannya tetap bertempat di keraton Kaibon.

    \n\n

    Pada tanggal 3 Maret 1942, Tentara Jepang masuk ke Daerah Serang melalui Pulau Tarahan dipantai Bojonegara. Jepang mengambil alih Karesidenan yang pada waktu itu dikuasai oleh Belanda, sedangkan Bupatinya tetap dari pribumi yaitu RM Jayadiningkrat. Kekuasaan Jepang berjalan selama kurang lebih tiga setengah tahun.
    \nSetelah tanggal 17 Agustus 1945, kekuasaan Karesidenan beralih dari tangan Jepang kepada Republik Indonesia dan sebagai Residennya adalah K.H. Tb. Achmad Chatib serta sebagai Bupati Serang adalah KH. Syam’un, sedangkan untuk jabatan Wedana dan Camat-camat banyak diangkat dari para Tokoh Ulama.

    \n\n

    Dengan datangnya Tentara Belanda ke Indonesia yang menimbulkan Class/Agresi ke I sekitar Tahun 1964/1947. Daerah Banten/Serang menjadi Daerah Blokade yang dapat bertahan dari masuknya serbuan Belanda, dan putus hubungan dengan Pemerintah Pusat yang pada saat itu di Yogyakarta, sehingga daerah Banten dengan ijin Pemerintah Pusat mencetak uang sendiri yaitu Oeang Republik Indonesia Daerah Banten yang dikenal dengan ORIDAB.
    \nPada tanggal 19 Desember 1948 pada waktu itu Class/Agresi II. baru Serdadu Belanda dapat memasuki Daerah Banten/Serang untuk selama 1 (satu) tahun dan setelah KMD Tahun 1949, Belanda meninggalkan kembali Daerah Banten/Serang, yang selanjutnya Daerah Serang menjadi salah satu Daerah Kabupaten di Wilayah Propinsi Jawa Barat.
    \nYang sekarang sejak tanggal 4 Oktober 2000, terbentuknya Propinsi Banten maka Kabupaten Serang resmi menjadi Bagian dari Propinsi Banten. Kemudian sejak adanya Jabatan Regent atau Bupati pada Tahun 1826 sampai sekarang, telah terjadi 32 kali pergantian Bupati. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pemerintahan di Serang telah mengalami 4 (empat) kali masa peralihan kekuasaan/pemerintahan, yaitu :

    \n\n
      \n
    1. Pemerintahan Kesultanan Kerajaan Banten yang berkuasa selama ± 290 Tahun, dimulai sejak     Sultan Maulanan Hasanuddin yaitu Tahun 1526 sampai Tahun 1816. Dan saat berdirinya Keratan Surosoan sebagai pusat Pemerintahanyang ditandai dengan penobatan Pangeran Sabakingking dengan Pangeran Hasanuddin pada tanggal 1 Muharram 933 H / 8 Oktober1526 M, kemidian dijadikan landasan penetapan sebagai Hari Jadi Kabupaten Serang.
    2. \n
    3. Pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa selama ± 126 Tahun yaitu pada tahun 1816 sampai Tahun 1942.
    4. \n
    5. Pemerintah Jepang yang baru berkuasa selama ± 3,6 Tahun yaitu dari Tahun1942 sampai Tahun 1945.
    6. \n
    7. Pemerintah Republik Indonesia dimulai sejak diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sampai sekarang
    8. \n
    \n\n

    Website Kabupaten Serang : https://www.serangkab.go.id/web/

    \n";s:2:"zh";s:6337:"

    \"\"

    \n\n

    区概述。攻击

    \n\n


    \n历史不容分割西朗摄政比万丹的历史一般,因为原来的攻击是万丹王国/苏丹国矗立在十六世纪,位于区域中心的攻击统治的一部分。
    \n
    \n十六世纪以前,约万丹的消息没有太大的载入史册,据说在万丹的开始仍然是巽他王国的一部分,万丹统治者在当时是一般芽景,景Sidaraja巴查查兰的儿子。该中心坐落在万丹Girang元年(±西朗3公里的南部)在六世纪,伊斯兰教开始进入到万丹被苏南古农Jatiatau Sych发表Syarifudin Hidayatullah带来逐步发展伊斯兰教在万丹及周边地区,可以被征服在位国王的拍摄一般(公元1524年至1525年AD)。随后,他成立了王国/万丹伊斯兰苏丹国名为毛拉哈桑丁起重儿子是万丹王/苏丹第一执政±18年(公元年1552至1570年)。在苏南火山贾蒂,原本安置在中央政府万丹万丹Surosowan Girang的主动转移到老(万丹LOR)位于±城市西朗的北部10公里。
    \n
    \n苏丹哈桑丁(公元1570年)去世后,被替换了他的儿子名叫毛拉·优素福为矮脚鸡二王(公元公元1570至80年),后经王/苏丹第三取代,四,依此类推,直至最后一个苏丹21(二二十一),苏丹穆罕默德Rafiudin裁决,1809年至1816年因此,在万丹苏丹国期/伊斯兰王国,从1552年S / D于1816年运行一段±的264年即。
    \n
    \n在苏丹的许多重要事件的时有发生,特别是在十六世纪(1596年6月),其中荷兰人来到第一次降落在万丹科内利斯德霍特曼的端口导致与贸易意向的结束。但荷兰人的傲慢态度,不吸引政府和万丹的人,当时的同情,往往造成万丹的人与荷兰人之间的紧张关系。
    \n
    \n目前,谁在万丹统治的苏丹是苏丹第四,苏丹阿卜杜勒·穆罕默德Mufakir阿卜杜勒·卡迪尔,谁是还很不成熟/宝宝,是谁作为他的监护人是Mangkubumi Jayanegara谁在1602年去世后由他的弟弟Yudha取代长良。
    \n
    \n在1608年王子Ramananggala任命为Patih Mangkubumi。苏尔坦Mufakir启动年1624 S / D年1651带有R amanggala的全权代表作为Patih和咨询相关资产。万丹苏丹其中VI是苏丹苏丹阿卜杜勒·法塔赫的孙子V由苏丹阿贡阿贡是谁从1651年持有政府的缰绳可达1680(±30年)的绰号是已知的。在政治,经济,贸易,航运和文化的统治进展迅速。同样地,在错误的对荷兰公司的持久性。顶级英雄主义在对阵荷兰的公司斗争的基础上,印度尼西亚共和国总统的法令,被授予荣誉苏丹阿贡阿贡predikt为国家英雄。
    \n
    \n在苏丹统治时期进入这个VI,经常发生冲突和战争与荷兰公司这在当时已经在电力雅加达。由分而治之(分而治)苏丹主要反阿贡VOC的阿贡之间进行与他的儿子苏尔坦Kahar(苏丹·哈吉)的方式亲荷兰公司可以削弱苏丹阿贡阿贡的力量。苏丹阿贡阿贡最终无力回天,并撤回进入室内,而是通过说服苏丹·哈吉,苏丹阿贡阿贡可以被逮捕,然后关押在1692年被囚禁在巴达维亚,直到他去世然而,尽管苏丹阿贡阿贡的去世,对荷兰的斗争不断爆发和随后忠实的追随者与执着不屈。
    \n由于苏丹阿贡阿贡死亡,万丹苏丹国开始撤退(阴沉),因为下一个苏丹已经开始受到荷兰公司,他的政府开始不稳定和弱。
    \n
    \n在1816年的州长范德钙的带领下,荷兰公司pellen来万丹万丹,把苏丹穆罕默德Rafiudin的控制权。荷兰将全港分为三个部分/国家是攻击,勒巴克和Caringin领导他的国家被称为摄政(Bupati),作为第一个以攻击任命摄政王子咏叹调阿迪珊迪卡与中央政府仍然住在宫殿Kaibon。
    \n
    \n于1942年3月3日,日军进入区域西朗通过EVAL岛岸边Bojonegara。日本接管居住这在当时是由荷兰控制,而土著摄政的遗迹,即RM Jayadiningkrat。日本电力运行了大约3年半。
    \n1945年8月17日之后,日本对印度尼西亚共和国和作为Residennya手中的居住电源开关KH TB。艾哈迈德Chatib以及西朗的摄政是KH。 Syam'un,而对于民政事务专员和区长,区长的职务解除许多数字乌里玛。
    \n
    \n与荷兰军队的到来印尼,这引起了类/侵略给我约年1947分之1964。万丹/攻击到地区封锁,可以承受荷兰人入侵当时在日惹的条目,并从中央政府断开,所以万丹与中央政府的权限,打印自己的钱是印尼万丹地区被称为ORIDAB的Oeang共和国。
    \n在1948年12月19日的时候类/侵略II。荷兰士兵可以进入万丹/攻击的新的区域为一(1)年1949年KMD后,荷兰人左路万丹地区/攻击,随后成为区域西朗摄政在西爪哇省之一。
    \n谁现在自2000年10月4日的日期,万丹西朗区省的形成正式成为万丹省的一部分。然后,因为丽晶或摄政在1826年的位置到现在为止,已经有32次成交摄政。从上面的描述可以得出结论,政府在Serang经历四(4)倍的功率/政府,即过渡:
    \n
    \n    王 国万丹苏丹国统治为±290年,从苏丹哈桑丁Maulanan即公元1526到公元1816虽然建立该中心切口Surosoan Pemerintahanyang打上王子Sabakingking对1穆哈兰933 AH / 8 Oktober1526 M上的加冕王子哈桑丁起始政府, kemidian的前提是确定作为攻击天。
    \n    荷兰东印度政府执政±126年,即在1816年至1942年。
    \n    日本新政府执政±3.6年即从Tahun1942直到1945年。
    \n    印度尼西亚共和国政府1945年8月开始在印尼宣布独立17到现在
    \n
    \n西朗区网站:https://www.serangkab.go.id/web/

    \n";s:2:"en";s:7586:"

    \"\"

    \n\n

    Overview of the Serang District
    \n
    \nHistory must not be separated Serang regency than Banten history in general, because the original Attack is part of the Kingdom / Sultanate of Banten which stands in the XVI century and is located in the Regional Center Attack reign.
    \n
    \nBefore the sixteenth century, the news about Banten not much recorded in history, it is said in the beginning of Banten is still part of the Kingdom of Sunda, Banten ruler at the time was General Shoots King, Son of King Sidaraja Padjadjaran. The center is housed in Banten Girang reign (± 3 Km South of Serang) in the VI century, Islam began to enter into Banten brought by Sunan Gunung Jatiatau Sych Syarifudin Hidayatullah gradually develop Islam in Banten and the surrounding areas and can be conquered reign of King shoots General (Year 1524-1525 AD). Subsequently he established the kingdom / Islamic Sultanate of Banten with lifting son named Maulana Hasanuddin be King / Sultan of Banten first ruling ± 18 years (Year 1552-1570 AD). On the initiative of Sunan Gunung Jati, which originally housed the central government in Banten Banten Surosowan Girang moved to the old (Banten lor) located ± 10 km in the north of the city of Serang.
    \n
    \nAfter the death of Sultan Hasanuddin (Year 1570), was replaced by his son named Maulana Yusuf as the King of Bantam second (Year 1570-1580 AD) and subsequently replaced by the King / Sultan third, fourth and so on until the last Sultan to 21 (Two Twenty-One), Sultan Muhammad Rafiudin ruling on the year 1809 up to 1816. So the Sultanate period / Islamic kingdom in Banten run for a period of ± 264 years ie from Year 1552 s / d in 1816.
    \n
    \nAt the time of the Sultanate's many important events occur, especially at the end of the sixteenth century (June 1596), in which the Dutch people came for the first time landed in the port of Banten Cornelis de Houtman led with the intention to trade. But the arrogant attitude of the Dutch people do not attract the sympathy of the Government and people of Banten at the time, often resulting in tension between the people of Banten with Dutch people.
    \n
    \nAt the moment, the Sultan who reigned in Banten is the fourth Sultan, Sultan Abdul Mufakir Muhammad Abdul Kadir, who was still immature / baby, being who acts as his guardian is Mangkubumi Jayanegara who died later in 1602 and replaced by his brother Yudha Nagara.
    \n
    \nIn the Year 1608 Prince Ramananggala appointed as Patih Mangkubumi. Sultan Abdul Mufakir start plenipotentiary of the Year 1624 s / d Year 1651 with R amanggala as Patih and Advisory Underlying. Sultan of Banten which to VI is the grandson of Sultan Sultan Abdul Fatah to V are known by the nickname of Sultan Agung Tirtayasa who hold the reins of government from the year 1651 up to 1680 (± 30 years). In the reign of Politics, Economy, Trade, Shipping and Culture progressed rapidly. Similarly, the persistence in the wrong against the Dutch Company. Top of heroism in the struggle against the Dutch Company, based on the Decree of the President of the Republic of Indonesia, was awarded the honor of Sultan Agung Tirtayasa predikt as a National Hero.
    \n
    \nDuring the reign of Sultan Into this VI, frequent clashes and wars with the Dutch Company which at that time had been in power in Jakarta. By way of Divide and Conquer (Divide Et impera) mainly conducted between Tirtayasa of Sultan Agung anti VOC with his son Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) pro Dutch Company can cripple the power of Sultan Agung Tirtayasa. Of Sultan Agung Tirtayasa ultimately powerless, and withdrew into the interior, but by persuasion Sultan Haji, of Sultan Agung Tirtayasa can be arrested and then detained and imprisoned in Batavia until his death in 1692. However, despite of Sultan Agung Tirtayasa deceased, the struggle against the Dutch continued to flare and followed by faithful followers with persistent and unyielding.
    \nSince the death of Sultan Agung Tirtayasa, the sultanate of Banten began to retreat (gloomy), because the next Sultan has begun to be affected by the Dutch Company that his administration began unstable and weak.
    \n
    \nIn the year 1816 the Dutch Company under the leadership of Governor Vander Ca pellen come to Banten Banten and took control of Sultan Muhammad Rafiudin. Dutch divided the territory into three parts / country that is Attack, Lebak and Caringin to head his country called Regent (Bupati), as the first to Attack appointed Regent Prince Aria Adi Santika with the central government remain housed in the palace Kaibon.
    \n
    \nOn March 3, 1942, Japanese troops entered the Regional Serang through EVAL Island shore Bojonegara. Japan took over residency which at that time was controlled by the Dutch, while the remains of indigenous Regents ie RM Jayadiningkrat. Japanese power runs for approximately three and a half years.
    \nAfter August 17, 1945, the residency power switch of the hands of Japan to the Republic of Indonesia and as Residennya is KH Tb. Achmad Chatib as well as the Regent of Serang is KH. Syam'un, while for the post of district officer and district head-district head lifted many of the figures Ulama.
    \n
    \nWith the arrival of the Dutch troops to Indonesia, which raises Class / Aggression to I about Year 1964/1947. Banten / Attack into regional blockade that can withstand the entry of the Dutch invasion, and disconnected from the central government at that time in Yogyakarta, so Banten with central government permission to print their own money that is Oeang Republic of Indonesia Banten Regional known as ORIDAB.
    \nOn December 19, 1948 at the time Class / Aggression II. Dutch soldiers can enter the new region of Banten / Attack for 1 (one) year and after KMD 1949, the Dutch left back Banten Regional / Attack, which subsequently became one of the Regional Serang regency in West Java Province.
    \nWho now since the date of October 4, 2000, the formation of the Province of Banten Serang District officially became part of the province of Banten. Then, since the position of Regent or Regent in year 1826 until now, there have been 32 times turnover Regent. From the description above can be concluded that the Government in Serang has undergone four (4) times the transition of power / government, namely:
    \n
    \n    Government of the Kingdom of Banten Sultanate ruling for ± 290 years, starting from the Sultan Hasanuddin Maulanan namely the Year 1526 to the Year 1816. And while the establishment of the center cutouts Surosoan Pemerintahanyang marked with the crowning of Prince Sabakingking with Prince Hasanuddin on 1 Muharram 933 AH / 8 Oktober1526 M, kemidian is premised determination as Day of Attack.
    \n    Dutch East Indies government in power for ± 126 years ie in 1816 until 1942.
    \n    The new Japanese government in power for ± 3.6 years ie from Tahun1942 until 1945.
    \n    The Government of the Republic of Indonesia began in the proclamation of Indonesian independence on 17 August 1945 to the present
    \n
    \nSerang District website: https://www.serangkab.go.id/web/

    \n";}

    Twitter


    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan